Siapah sih yang nggak tau tempat nonton film gratis di internet seperti lk21 dan indoxxi? Pasti sebagian besar dari kita tahu dan mungkin pernah mengunjungi website mereka yang meyediakan tempat download film, mulai dari film lama sampai film terbaru, mulai dari film terbaru Indonesia sampai luar negeri, semuanya lengkap ada di situ. Sebenarnya apa sih untungnya membajak film? Toh kemudian diupload ke website yang dimana semua orang bisa mengaksesnya secara gratis kan? Eits, jangan salah dulu, meskipun kita mendapatkan nonton film gratis di website mereka, tapi kita juga menjadi komoditas bagi mereka karena kita telah mengklik iklan yang mereka tanyangkan di website mereka. Pasti udah bukan rahasia deh kalau pas nonton atau download film di situ, kita gak bisa langsung nonton gitu aja, pasti pas kita klik play eh malah mengarah gak jelas kemana, dan di situlah letak cuan mereka. Dari data yang di dapat dari similarweb –website untuk mengetahui jumlah traffic suatu website- kanal nonton film gratis seperti lk21 dan indoxxi mempunyai pengunjung hingga jutaan per bulan, dan mereka tentunya mempunyai lebih dari satu website karena untuk backup ketika salah satu website mereka diblokir. Lalu berapa cuan yang dihasilkan dari membajak film – film tersebut? Dikutip dari kincir, pendapatan pemilik website lk21 mempunyai potensi penghasilan hingga 2,4 miliar rupiah per bulan, sedangkan pemilik indo xxi potensi penghasilannya hingga 8,4 miliar per bulan. Wow angka yang sangat fantastis mengingat biaya produksinya sangatlah minim. Dari sini kita bisa melihat bahwa pihak pembuat film dan pemilik bioskop akan gigit jari mengingat keuntungan yang seharusnya mereka peroleh malah lari ke pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Beruntungnya adalah pihak produsen dan pemilik bioskop tidak sampai merugi dengan pembajakan yang masif ini karena mereka memiliki beberapa hal tidak mungkin dibajak dari segi perangkat kerasnya.

Satu pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa yang patut disalahkan dalam kasus ini? Secara kasat mata memang si pembajaklah yang paling disalahkan atas kerugian besar ini. Akan tetapi, sesuai hukum ekonomi, produk tidak akan ada jika pasar juga tidak ada, dengan kata lain peminat produk bajakan juga masih sangat banyak. Oleh karena itu, pembajakan masih marak terjadi karena konsumennya juga banyak, dan faktanya bisa dilihat dari data di atas. Memangnya siapa yang tidak tertarik pada hal yang seharusnya bayar tapi malah bisa dapat gratis? Siapa sih yang nggak mau download film dan nonton film gratis? Apa lagi pas kondisi keuangan tidak memungkinkan, fix sih bakal setuju banget sama tindakan pembajakan ini. Akan tetapi, benarkah ini hanya semata – mata salah pembajak dan konsumennya seperti kita – kita pas lagi bokek ini doank? Tentu saja tidak. Lalu siapa lagi yang patut disalahkan?

Mungkin banyak pembuat film dan pemilik bioskop belum sadar bahwa disrupsi digital sekarang sudah mulai terjadi, dan banyak orang yang lebih memilih nonton di rumah karena kalau harus ke bioskop itu ribet. Selain tiket yang gak murah – murah amat, apalagi kalau pas akhir pekan, jalanan macet dan harus tepat waktu nyampe di bioskop adalah alasan yang umum dijumpai kenapa banyak orang lebih memlih kehadiran bioskop mini di rumah. Terlebih lagi sekarang sudah ada bioskop gratis seperti lk21 dan indo xxi yang menyediakan film terbaru untuk semua orang. Sebenarnya sudah ada sih platform streaming film online premium yang murah seperti netfilx, hbo, amazon, dan dinesy. Akan tetapi, itu kan tetap bayar alias gak bisa nonton film gratis di situ. Jadi, balik lagi deh ke situs film bajakan yang mengizinkan kita download film dan nonton film gratis tanpa biaya apa pun. Sebenarnya inilah kesalahan yang sangat fatal yang dibuat oleh produsen film. Lho kok bisa salah produsen film? Kan mereka harusnya jadi korban aja dari pembajakan ini? Memang, tapi kalau diam saja tanpa ada penindakan nyata atas pembajakan karya mereka, ini akan jadi lingkaran setan yang tak akan pernah ada akhirnya. Menempuh jalur hukum? Terlalu banyak biaya dan waktu yang dikeluarkan. Lagian kita gak mungkin kan tiap rilis film harus harus siap lapor juga ke pihak berwajib untuk melaporkan si pembajak, jelas itu akan sangat amat merepotkan. Sebenarnya, produsen film selain merilis filmya di bioskop, mereka juga harus bekerja sama dengan platform streaming film tersebut untuk dirilis di kanal mereka juga. Tapi kan itu juga bisa dibajak juga akhirnya? Kan bioskop dan kanal streaming juga sama – sama bayar, terus apa bedanya? Memang sih ini butuh eksperimen untuk menjalankan semuanya, dan pasti tidak semudah teorinya. Nantinya bisa dibandingkan antara pendapatan dari bioskop dan dari kanal streaming film tersebut. Keuntungan dirilis di kanal streaming adalah ia mampu menjangkau seluruh dunia dan juga tak ada batas tanggal dan waktu sampai kapan film tersebut ditayangkan. Jadi hipotesis sementara mungkin pendapatan dari kanal streaming akan lebih banyak dari pendapatan di bioskop. Tapi, sekali lagi ini hanya hipotesis bukan fakta, butuh pembuktian dengan melakukan eksperimen.

Akan tetapi, cara tersebut juga mungkin tidak bisa menghilangkan pembajakan, ya karena itu masih bayar dan hanya karena beda media aja. Sebenarnya ada solusi lain supaya pembajakan benar – benar mati, yaitu dengan meniru model bisnis apa yang sudah dilakukan oleh platform streaming musik seperti spotify. Mengapa harus meniru spotify? Mereka kini sudah sangat besar dengan 200 juta pengguna aktif di seluruh dunia, tapi sebagian besar pengguna tersebut adalah pengguna gratisan, yaitu sekitar 113 juta orang. Lalu dari mana mereka mendapatkan keuntungan? Ya tentu dari iklan donk, tapi iklan hanya akan menyasar pengguna gratisan, dan pengguna premium tidak dikenakan tayangan iklan karena mereka bersedia membayar untuk layanan yang lebih lengkap. Berangkat dari sini, para produsen film mungkin bisa berdiskusi dengan pemilik platform streaming film untuk memberikan akses gratis kepada publik dengan layanan terbatas. Tentunya, ini juga butuh riset dan eksperimen nyata untuk mengetahui hasilnya. Satu yang pasti, jika platform – platform tersebut melakukan hal ini, bisa hampir dipastikan pemilik situs nonton film gratis seperti lk21 dan indo xxi ini akan gulung tikar nantinya. Bagaimana tidak, jika ada yang gratis, resmi, dan berkualitas kenapa harus milih yang gak resmi dan kurang berkualitas? Toh juga nantinya sama – sama ada iklannya. Selain itu, di kanal resmi iklannya juga gak ada yang kayak hantu seperti yang ada di kanal download film gratis itu, klik play malah buka website buat judi.

Judiii…. Teeettt…