Mitos selalu dihubungkan dengan sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman. Bahkan, mitos dipercaya hanya sebagai lelucon belaka dan hiburan di saat jenuh. Ya, hal itu merupakan wajar saja karena mitos memang dibuat untuk cerita atau dongeng yang tidak bisa dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Bagaimana nasib mitos sekarang? Memang mitos yang diciptakan pada jaman dahulu kala digunakan sebagai dongeng atau cerita, akan tetapi sekarang bergeser sebagai simbolisasi akan sesuatu, misalnya dalam logo atau iklan. Banyak sekali logo – logo dari suatu institusi yang menggunakan pendekatan mitologi kuno dalam pembangunan identitasnya. Begitu juga dengan iklan, banyak iklan sekarang yang mempertontonkan tokoh mitologi pada jaman dulu untuk menyimbolkan kelebihan dari produk itu.

Lalu, apa hubungannya mitos dengan teknologi informasi dan bisnis? Di era teknologi informasi ini, banyak juga mitos yang berkembang dan sayangnya kebanyakan menimbulkan atau bahkan mendatangkan hal buruk pada orang – orang yang mempercayainya. Misalnya saja mitos yang paling umum adalah orang yang mau membuka usaha harus mempunyai modal besar dan kemampuan hebat dalam bebisnis. Ini cukup membuat geli dan terkadang merasa geregetan pada orang – orang yang masih mempercayai mitos tersebut. Mari berkaca dari kisah nyata, seorang imingran dari eropa timur yang datang ke amerika pada masa krisis dan sempat menjadi gelandangan dan bekerja sebagai tukang cuci piring, berhasil mempunyai platform chatting dengan pengguna terbanyak di dunia, Whatsapp. Dia yang awalnya tidak diterima untuk bekerja di Facebook, beberapa tahun kemudian diundang oeh pemiliknya sendiri untuk membeli Whatsapp ciptaannya dengan mahar kurang lebih 100 miliyar dollar amerika, dan sekarang Jan Koum menjadi CEO dari Whatsapp sendiri. Masihkah itu sebuah mitos? Tidak sama sekali. Dan dari sini kita bisa mencontoh kegigihan seorang Jan Koum yang tidak pernah menyerah untuk mencapai tangga kesuksesan dalam hidupnya.

Lalu yang kedua adalah soal perkembangan bisnis yang seolah – olah sudah berada di puncak. Dalam mitos yang berkembang, orang – orang yang sudah kebanjiran order tiap harinya berpikir bahwa mereka sudah sukses dan telah berhasil menjadi pebisnis yang handal. Sayang sungguh sayang, sebenarnya tidak ada bisnis yang benar – benar sukses. Suskses hari ini bukan berarti sukses esok hari kalau tidak berinovasi terus – menerus. Kita bisa belajar dari Nokia, sang penguasa telepon seluler pada tahun 90an hingga awal 2000an. Tapi kemana mereka sekarang? Setelah beberapa tahun sempat vakum karena anjloknya saham yang kemudian perusahaannya dijual kepada Microsoft, kini mereka mulai bangun dari tidur panjangnya, tapi masih belum juga terlihat. Apa yang salah dengan nokia? Siapa yang tidak memakai ponsel nokia pada masa jayanya? Seperti mitos yang sudah  dikemukakan di atas, mereka percaya mitos bahwa sukses itu hal yang tidak bisa berubah. Nyatanya mereka collapse karena tidak melakukan inovasi, yaitu tidak beralih dari symbian ke android disaat produsen ponsel yang lain sudah ramai – ramai mulai memakai android dan ios.

Inovasi dalam hal apa pun kini tidak bisa lepas dari peran teknologi dalam menunjang perkembangan sesuatu. Bahkan, teknologi tidak bisa lepas dari semua sektor kehidupan kita di era yang serba cepat ini. Oleh karena itu, mengikuti trend dan update tentang teknologi menjadi sebuah keharusan untuk setiap orang dewasa ini.